Kinerja Bank Pemerintah Semester I 2015

20140505-190106_28

Kemarau di tahun ini sepertinya akan menjadi masa-masa paceklik bagi dunia perbankan. Semester I 2015 ini saja, sejumlah bank terpaksa harus merelakan sebagian dari keuntungannya menyusut yang diakbibatkan oleh kelesuan ekonomi serta tingginya beban bunga. Padahall jika kondisi semacam ini terus berlanjut akan banyak pihak yang pada akhirnya mengajukan protes. Bukan hanya bankir yang merasa terancam akan kehilangan bonus, akan tetapi demikian halnya engan para pemegang saham yang merasa was-was karena harga saham juga mengalami penurunan.

BTN dinilai paling solid di tahun 2015

Memang tidak semua bank pemerintah, contohnya saja seperti BTN. Dibandingkan dengan bank di skala lokasl lainnya, dapat dikatakan bahwa bank pemerintah ini memiliki kinerja yang paling solid. Bank yang lebih berfokus pada bidang pembiayaan rumah ini memang berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 831 miliar, sehingga dapat dikatakan bahwa BTN mengalami pertumbuhan 54,25% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Lebih meyakinkannya lagi ketika sektor riil melesu, BTN sendiri mampu mengerek kreditnya hingga mengalami pertumbuhan dari 18,33% menjadi memasuki nilai Rp 126,13 triliun.

Performa bank pemerintah lainnya

OCBC NISP memiliki performa yang tidak kalah cemerlang dibanding dengan BTN. Hal ini terbukti di kesuksesannya dalam meningkatkan laba bersih yang hanya 16% year on year menjadi senilai Rp 735  milir sekaligus juga meningkatkan net interest margin atau NIM dari Rp 1,8 triliun menjadi mampu mencapai Rp 1,95 triliun dengan kata lain pertumbuhan yang dialaminya mencapai 8%.

Sedangkan untuk kinerja dari BCA sendiri dapat dikatakan standar karena masih membukukan angka pertumbuhan laba sebesar 8,8% menjadi senilai Rp 8,5 triliun. Meskipun pencapaian tersebut masih kalah jika dibandingkan dengan semester I pada tahun lalu, 2014. Hanya saja sayangnya BNI justru berada dalam posisi yang tragis sepanjang semester I 2015 bank pelat merah ini membukukan laba bersih yang hanya mampu mencapai Rp 2,43 triliun, turun sekitar 50,8% dibandingkan dengan tahun lalu.

Memahami Cost Recovery yang Menguntungkan Kontraktor Migas

Qatar-growth-opportunities

Industri migas (minyak dan gas) merupakan industri yang memiliki resiko tinggi. Umumnya resiko tersebut terjadi pada sektor hulu migas, yaitu eksplorasi, pengembangan, dan produksi. Jumlah pendapatan yang akan diperoleh dengan biaya yang sudah dikeluarkan sebelumnya harus diperhitungkan dengan matang oleh kontraktor migas sebelum memutuskan terlibat dalam kontrak migas.

Gambarannya seperti ini, sekitar 30% dari total biaya kontraktor migas dialokasikan untuk biaya eksplorasi dalam satu program. Dengan pengeluaran yang cukup besar tersebut, investasi di migas menjadi sebuah trade-off antara penerimaan negara dan insentif kontraktor untuk mengoperasikan sektor hulu migas.

Penerimaan kontraktor dan pendapatan negara yang terlalu kecil ini menurunkan minat kedua belah pihak. Sejak lama keduanya berusaha mencapai serangkaian sistem yang dapat menciptakan fair-share untuk kedua belah pihak.

Indonesia sudah memberlakukan sistem bagi hasil atas biaya operasional yang dikeluarkan kontraktor. Pemerintah mengatur dalam perundang-undangan bahwa ada kewajiban mengembalikan semua biaya operasional yang sudah dikeluarkan. Mekanisme disebut dengan cost-recovery.

Di Indonesia cost-recovery terbagi dalam dua komponen besar, yaitu biaya operasi dan biaya depresiasi harta berwujud. Kondisi ini berlaku ketika pemerintah belum mengembalikan biaya operasional tahun lalu, maka komponen ini dimasukkan pada tahun berjalan (tahun berikutnya). Biaya ini disebut dengan uncovered cost. Ada perbedaan antara biaya operasional dan biaya investasi. Biaya operasional meliputi biaya eksplorasi, eksploitasi dan administrasi umum. Sedangkan investasi adalah biaya pembelian harta berwujud, seperti pembelian alat berat untuk fasilitas produksi.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 29, biaya operasi dibagi menjadi dua metode, Full Cost atau Successful Efforts. Metode Full Cost mengharuskan bahwa semua biaya yang berhubungan dengan usaha menemukan cadangan komersil dapat dikapitalisasikan, meskipun hasilnya dry hole ( tidak ditemukan cadangan komersil). Sedangkan metode Successful Cost mengharuskan biaya-biaya yang dikeluarkan memberi manfaat untuk masa mendatang yang dapat dikapitalisasi, maksudnya ditemukan cadangan komersil.

Pemerintah Indonesia mengombinasikan dua metode tersebut melalui sistem PSC (Product Sharing Contract). Mengenai biaya penemuan cadangan, pemerintah membebankan biaya dry hole dan mengapitalisasi successful exploration. Sistem yang digunakan ini erat hubungannya dengan cost recovery karena biaya produksi yang dibebankan secara otomatis dipulihkan dalam mekanisme cost recovery. Biaya yang dikapitalisasi akan dimasukkan ke dalam biaya investasi.

Cost recovery yang diterapkan di Indonesia sebelum Undang Undang nomor 22 tahun 2001 menggunakan batas atas, yaitu biaya maksimal yang dapat dikembalikan pemerintah. Rasionya saat itu adalah 60:40. Namun, ketika muncul insentif untuk investasi, pemerintah menghapus batas atas dan sepenuhnya mengembalikan biaya operasional kontraktor migas.

Persentase masing-masing cost recovery terhadap pendapatan kotor sekitar 25% dan 30% pada tahun 2012-2013. Semua biaya tersebut pasti dikembalikan pemerintah Indonesia. Tapi ada asumsi bahwa biaya tersebut tidak sepenuhnya biaya riil yang terjadi, ada kemungkinan penekanan biaya. Tapi dengan tidak adanya ketentuan batas memberikan keleluasaan bagi kontraktor migas untuk mencantumkan biaya operasional sebesar mungkin.

Rupiah Melemah Karena Desakan Potensi Kenaikan Suku Bunga AS

gbp-usd-breaking-higher-inflation

Sebelumnya Bank sentral Amerika Serikat / The Federal Reserve telah mengemukakan bahwa akan menaikkan suku bunga as pada bulan September, mengingat bursa tenaga kerja AS dan pertumbuhan ekonomi yang semakin menguat.

Bank sentral Amerika berencana untuk menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak tahun 2006. Namun untuk menaikkan suku bunga harus didasari dengan bursa tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Yellen yang merupakan pimpinan Bank sentral AS juga menuturkan bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan tahun ini, hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan kejutan negatif bagi perekonomian. Namun bank sentral sepertinya mengabaikan gejolak ekonomi yang terjadi di luar negeri seperti yang terjadi di China.

Pada bulan Mei, tingkat pengangguran AS berada di level terendah sejak tahun 2008 lalu, yaitu mencapai angka 6,3%. Inflasi juga sudah berjalan sesuai target sebesar 2%.

Seiring potensi kenaikan suku bunga as , pasar saham Amerika Serikat bergerak melemah. Hal ini bisa dilihat dari aksi jual yang terjadi karena ekspektasi kenaikan suku bunga yang akan terjadi pada pertengahan tahun ini dan pertama kalinya terjadi sejak 10 tahun yang lalu.

Akibatnya pada jumat 7 Agustus 2015 saat perdagangan kembali di buka, rupiah semakin melemah terhadap dollar Amerika, dan dibuka pada posisi Rp13.535/USD. Rupiah mengalami penurunan yang signifikan sejak perdagangan pada hari Kamis ditutup pada level Rp13.529/USD. Data pertumbuhan ekonomi yang telah dirilis pada hari Rabu 5 Agustus 2015 menunjukkan bahwa terjadi perlambatan ekonomi dalam negeri sehingga membuat rupiah terus bergerak melemah hingga Jumat pagi. Di mana pada tanggal 28 Agustus 2015, kurs USD sudah berada di level Rp14.045/USD.

Rupiah semakin terjungkal karena pelaku pasar melakukan aksi berburu dollar. Hal ini berpotensi membuat rupiah berada di level paling rendah sejak krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 lalu. Rupiah berada di level terendah disebabkan oleh potensi kenaikan suku bunga Amerika yang semakin menekan rupiah.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga yang terjadi September nanti akan berpotensi membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat mengalami pelemahan karena rupiah sulit mengimbangi kenaikan suku bunga yang akan terjadi.

Mengingat kenaikan suku bunga AS yang akan berdampak terhadap nilai tukar rupiah terhadap mata uang lainnya, namun masih ada harapan rupiah bisa menguat hingga level Rp13.350 per dollar. Hal tersebut bisa terjadi karena anggapan bahwa kenaikan suku bunga AS yang akan terjadi September nanti akan memberikan kepastian bagi pelaku pasar. Disamping kenaikan suku bunga as yang akan terjadi pertengahan tahun nanti, diharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bisa mendukung perekonomian Indonesia.

Pembangkit Energi Panas Bumi di Indonesia

geotermal1

Saat ini pembangkit energi panas bumi merupakan sumber energi alternatif yang dapat diperbarui untuk mencukupi kebutuhan manusia yang dari waktu ke waktu semakin meningkat. Sumber daya alternatif ini melimpah dan dinilai lebih ramah lingkungan. Di Indonesia sendiri energi panas bumi ini sudah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Indonesia merupakan negara yang mempunyai kandungan panas bumi cukup besar, namun pemanfaatannya masih belum maksimal.

Apa Itu Energi Panas Bumi?

Energi panas bumi atau dengan kata lain Geothermal Energy adalah energi panas (thermal) yang berasal dari dalam bumi dan disimpan di bumi. Dalam Bahasa Yunani Geothermal berasal dari kata “Geo” (bumi) dan “Therm” (panas/kalor). Energi ini berasal dari panas matahari yang diserap oleh bumi dan juga berasal dari aktivitas tektonik yang berada di dalam bumi.

Aktivitas tektonik yang terjadi di dalam bumi bisa menghasilkan panas, hal itu terjadi karena magma yang ada di perut bumi membuat lapisan yang berada di atasnya mengalami peningkatan temperatur. Temperatur magma yang ada dalam perut bumi ini bisa mencapai 5.400° C. Ketika lapisan yang mengalami peningkatan temperatur tadi bersentuhan dengan air, maka akan menghasilkan uap panas yang memiliki tekanan tinggi. Uap panas inilah yang disebut sebagai Geothermal Energy atau energi panas bumi.

Kelebihan Energi Panas Bumi

Energi yang dihasilkan dari pembangkit energi panas bumi ini merupakan salah satu energi alternatif yang saat ini sudah dikembangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Energi ini dinilai lebih baik karena memiliki berbagai kelebihan dibanding energi-energi yang lain. Selain bisa diperbarui sehingga persediaannya tidak akan habis, energi panas bumi merupakan energi paling bersih diantara energi yang lain. Selain itu energi panas bumi juga dinilai ramah lingkungan karena tidak menyebabkan pencemaran udara maupun suara, serta tidak menghasilkan gas atau cairan yang bisa membahayakan lingkungan. Meskipun terdapat energi alternatif lainnya, yaitu tenaga surya dan angin, energi panas ini tidak terpengaruh oleh musim dan lebih bersifat konstan.

Pemanfaatan Energi Panas Bumi

Semakin meningkatnya konsumsi listrik dari waktu ke waktu mengharuskan kita untuk menemukan energi alternatif yang bisa diperbarui. Energi panas bumi inilah solusinya. Itu sebabnya energi panas bumi ini telah dimanfaatkan di berbagai negara di dunia.  Indonesia merupakan negara yang berpotensi memiliki energi panas bumi yang besar dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan 40% energi panas bumi yang ada di dunia berada di Indonesia. Namun baru kurang dari 4% saja yang telah dimanfaatkan di Indonesia. Dalam pemanfaatan pembangkit energi panas bumi ini, PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas) yang telah beroperasi di Indonesia baru ada di beberapa daerah saja, seperti di Sibayak Sumatera Utara, Lahendong Sulawesi Utara, Salak Jawa Barat, dan Dieng Jawa Tengah.

Kurs Rupiah Juli 2015

USD-notes

Pada tanggal 10 kurs rupiah juli 2015 , Rupiah menguat sebesar 0,06% menjadi Rp 13.326/USD.  Dan penguatan Rupiah semakin ditunjukkan pada pukul 08.30 WIB dengan naik 17 poin atau sebesar 0,13% ke Rp13.317 dan terus bergerak di kisaran Rp13.316 – Rp13.327. Namun bagaimana pergerakan Rupiah setelah itu? Berikut ini laju pergerakan Rupiah hingga penutupan pada 10 Juli 2015.

  • Mayoritas mata uang negara Asean menguat pada pukul 09.33 WIB

Mayoritas mata uang negara Asia Tenggara menguat, namun hanya Baht yang melemah. Rupiah menguat 0,17% ke Rp13.311 per Dolar Amerika, Dolar Singapura menguat 0,1%, Peso Filipina menguat 0,1%, dan Ringgit Malaysia menguat 0,32%.

  • Pukul 10.32 WIB Rupiah menguat 32 poin

Rupiah menguat 32 poin (0,24%) ke Rp13.302 per Dolar Amerika. Sebelumnya Samuel Sekuritas Indonesia sudah memprediksi bahwa Rupiah akan terus menguat hingga akhir perdagangan karena situasi global yang semakin membaik.

  • Rupiah menempatkan diri menjadi terkuat kedua, dan mata uang Asean kompak naik pada pukul 12.44 WIB

Pada pukul 12.44 WIB mata uang Asean kompak naik dan menguat. Rupiah menguat 0,19%, sehingga kurs rupiah juli 2015 (10/7/2015) terhadap Dolar Amerika sebesar  Rp13.308/USD, dan membuatnya menjadi terkuat kedua. Sedangkan Dolar Singapura naik 0,08%, Peso Filipina naik 0,12%, Ringgit Malaysia naik 0,27%, dan Baht Thailand naik 0,01%.

  • Pada pukul 12.59 WIB Kurs Tengah BI Menguat 0,32%

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada 10 Juli 2015, Rupiah menguat secara signifikan terhadap Dolar Amerika.

Hal ini telah dilansir oleh bi.go.id yang merupakan situs resmi Bank Indonesia. Kurs tengah BI menguat 0,32% ke Rp13.304 per Dolar Amerika Serikat.

  • Rupiah menguat 0,16% ke Rp13.313 pada pukul 14.13 WIB

Pada sesi kedua perdagangan di bursa saham, Rupiah masih bertahan dengan terapresiasi 0,16% ke Rp13.313/USD.

Meredanya permasalahan yang terjadi di Yunani dan China membuat investor melepas mata uang safe haven dan kembali ke pasar emerging.

Pada pukul 14.06 WIB indeks Dolar Amerika turun sebesar 0,40%. Dan pada pukul 14.17 WIB Yen Jepang melemah sebesar 0,52%. Hal ini membuat kurs Rupiah terhadap Yen menguat sebesar 0,62% ke 109,16 pada pukul 14.17 WIB (10/7/2015).

  • Rupiah naik 0,15% ke Rp13.314 pada pukul 15.59 WIB

Bersama mata uang negara Asia yang lainnya, Rupiah semakin menguat sebesar 0,15% ke Rp13.314/USD.

Hal ini terjadi dikarenakan kepanikan atas gejolak di bursa China mereda dan juga meredanya permasalahan di Yunani. Akibatnya aliran modal kembali masuk ke pasar emerging dan membuat mata uang Asia menguat.

Pada pukul 15.58 WIB kurs rupiah juli 2015 (10/7/2015) terhadap Yen naik 0,76% ke 109,01. Hal ini terjadi ketika Yen Jepang melemah 0,66% dan indeks Dolar AS merosot sebanyak 0,61% ke level 96,021.